Wahai Santri-santriku…
1. Menyikapi, menghadapi badut-badut masyarakat perlu berhati-hati. Waspadalah kepada siapapun yang menghadiahi applaus pujian atau cemoohan.
2. Konspirasi Internasional global semakin galak untuk memangsa, tetapi itu aksioma hak dan bathil yang takkan berhenti. Ananda harus tahu siapa kawan siapa lawan.
3. Sebagaimana di kelas, di pondok diabsen, maka di rumah di desa (kampung) dan di daerah ananda pun selalu diabsen, minimal oleh malaikat.
4. Wanita qodratnya pemalu. Berapa persenkah sifat itu tetap bersama ananda? Dan dalam hal apa ananda malu?!
5. Fenomena pesantren banyak diamati orang, memang unik tapi berhasil karena kegiatan di dalamnya yang terbimbing.
6. Syi’ar Islam tanpa tegaknya syari’at hanya kekosongan dan keropos. Syari’at tanpa syi’ar terasa kering dan kaku… Perhatikan, camkan!
7. Waspadalah! Waspadalah! Pemurtadan partial dan menjurus pemurtadan total sedang gencar!
8. Perang peradaban sudah berjalan sekian lama, ananda punya kesempatan mahal saat ini untuk melibatkan diri.
9. Wanita/perempuan menjadi salah satu target strategi yang digunakan kaum “wa lan tardlo” maka tegaklah berdiri, tegakkanlah ‘aqidahmu! Pintu jihad terbuka kini.
10. Mulai tampak keterpurukan-keterpurukan peradaban tanpa moral, tanpa syara’ yang dibangun oleh zionisme.
11. Bangkrut dari dalam dirinya sendiri. Kecongkakan adalah awal dari kehancuran. Itu hukum Allah dan hukum alam. Percayalah!
12. Santri itu terhormat dan santri yang mencari dihormati itu palsu. Predikat itu sudah ada dalam diri ananda, katanya, apa benar?!
13. Raport manusia terhadap diri ananda tidak ada artinya jika raport Malaikat….Njemblek ….
14. Pandangan manusia tak berarti bagi yang memohon pandangan mesra dari Allah SWT.
15. Beruntung dan menguntungkanlah mereka yang memfungsikan hati, akal dan tenaganya. Mengurangi, rugi dan merugikan.
16. Insan kursi jabatan terkena pensiun…Pengabdi umat takkan terkena apalagi insan jihad.
17. Derajat seseorang setinggi tingkatan perhatiannya.
18. Janganlah kewanitaanmu hanya tampak di saat bersama dan atau di hadapan pria.
19. Dulu ada orang waras dituduh gila karena paling sehat. Kini banyak orang dianggap waras, padahal……nggak tahu yee?!
20. Kesabaran, keikhlasan, pengorbanan sudah sering dipidatokan, didiskusikan, kapan ananda menyikapinya?!
21. Umat kita senang berbicara kurang mendengarkan. Bagaimana ananda?
22. Orang kaya banyak yang sukar tidur, orang miskin sulit makan. Apa sebab?
23. Tidak ditanya bercuap-cuap. Kalau ditanya tak bisa menjawab. KUALITAS mbaak!
24. Wanita lebih sering berandai-andai daripada pria, batasilah agar syaitan tidak masuk!
25. Dunia ini luas, medan perjuangan dan pengabdian terbuka lebar. Galilah alternatif! Aktifkan aspirasi!
26. Islam selalu diadili oleh pandangan-pandangan orang-orang yang mengaku muslim, sekaligus Islam diadili oleh ulah tingkah umatnya yang memalukan. Bukalah hati, akal dan fikirmu dengan merenungi sumber-sumber hidayah dan ajarannya dengan seksama.
27. Waspadalah bahwa kandungan ayat وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُوْدُ dst tetap berlangsung hingga kini!
28. Kecemburuan keislaman harus ditanamkan dalam diri semua umat, khususnya ananda sendiri.
29. Jangan sekali-kali merasa lebih dari orang/pihak lain. Itu awal dari kehancuran.
لا أحد أحسن من أحد
لا جديد تحت الشمس
Demikianlah Ahli Hikmah berpedoman.
30. Tanggungjawab sebagai seorang wanita tak ada berhentinya. Apalagi wanita muslimah.
31. Banyak “plesetan-plesetan” kehidupan di sekitar kita, tanpa sempat diketahui dengan pasti pembuat atau perancangnya!
32. Penyimpangan dari kodrat kewanitaan pasti menghadapi benturan di dunia dan akhirat.
33. Sunnatullah itu tetap tidak mungkin berubah atau diubah. Janganlah santriyyah-santriyyahku terkecoh.
34. Fungsikanlah “Nurani Ilahy” dalam menentukan apa saja. Berangkatlah dari sumber ajaran Islam dalam berjalan….dan berperilaku!
35. Hidup ini adalah pendidikan abadi bagi seluruh alam, termasuk manusia. Dan ternyata manusialah yang sanggup mengemban “amanah” kakhalifahan.
36. Waspadalah terhadap pengajar-pengajar gadungan dan pelajaran-pelajaran pastur-pastur bersorban. Pelajaran-pelajaran palsu mempesona, merayu… banyak keluar dari pakar-pakar bertitel.
37. Renungkanlah ayat-ayat Allah yang tertulis di kitab-Nya dan di luar kitab-Nya… dengan renungan yang cukup…. Jangan tergesa-gesa sebab hidayah tidak mudah dimiliki dengan jual beli, tapi dengan mujahadah yang jujur, dan istiqomah yang abadi…. sepanjang umur manusia.
38. Ilmu itu netral tidak berpahala tidak berdosa. Manusia dengan sikapnyalah yang berpahala dan atau berdosa.
39. Peganglah keislamanmu dengan sungguh-sungguh, dengan kuat…. ”biquwwah”
40. Pewarisan nilai-nilai lebih utama dari manusianya.
41. Kalau laki-laki dan perempuan jadi manusia beneran, maka Islamlah tempat yang tepat.
42. Setiap insan mempunyai bakat menonjolkan dirinya, Cuma kadar, cara dan hasilnya yang berbeda-beda. Hati-hatilah!
43. Pandai-pandailah memilih mana yang prinsipil, jangan menjadi insan “mendinganistist” atau mangsa/objek makhluk-makhluk ambisius dunia.
44. Banyak teka-teki: menyejahterakan kemudian mentaatkan kemudian mengislamkan dan sebaliknya. Banyak juga yang terkecoh dengan istilah “ummiyyah” atau penemuan ilmiyyah. Ada juga yang sibuk mengurusi orang gila, padahal yang waras masih banyak.
45. Sistem terbaik itu tidak ada dan tidak akan pernah ada. Maka boleh saja orang berusaha menjadi “The First” tapi itu bukan “The Best”.
46. Kepada siapa Islam ini Allah titipkan? Generasi dua satu dan seterusnya menanggung dan menjawab.
47. Jangan menjadi generasi DDMM (Daripada Daripada Mendingan Mendingan). Generasi terpaksa… memaksa… pemaksaan… keterpaksaan… keterpaksaan memaksa dan lain sebagainya.
48. Al-Qur’an sumber hidayah dan ilham, bukan hanya rujukan referensi fikiran. Hati-hati…. puber intelek… puber ilmiyyah.
49. Atasanmu hanya Allah dan bawahanmu hanya bumi, jangan terbalik. Apalagi memperebutkan hasil bumi.
50. Sejarah orang lain takkan berjalan sama dengan sejarah anda. Jangan mengkhayal! Cukuplah dengan rumusan Sunnatullah.
51. Harga diri adalah anugerah asasi manusia dari Allah, tidak perlu dikejar! Cukup dipertahankan keutuhannya.
52. Jadilah orang yang ditiru, bukan yang meniru. Tentu dalam hal ini untuk hal-hal yang positif.
53. Mengajar adalah sebagian dari mengamalkannya. Memberi contoh lebih mudah daripada menjadi contoh.
54. Lidah hanya satu, mata dan bibir ada dua. Tapi mengapa yang dua tidak kuat/tidak kuasa mengendalikan yang satu?
55. Berhusnudhdhonlah kepada Allah dan Anshor-anshor-Nya dan bersu’udhdhonlah kepada syetan dan anthek-antheknya.
56. Kebesaran, kekuatan, ketinggian, kepintaran/keilmuan mayoritas tidak/bukan dasar/jaminan untuk memimpin atau mengatur. Jangan terkecoh!
57. Kepicikan banyak pemimpin terkadang menjadi pengganggu ananda dalam menjaga dan menjalankan HARGA DIRI ananda.
58. Banyak sekali manusia sombong atas ke”picik”annya, bangga atas ke”buta”annya.
59. Hanya dengan ke”islam”an anda dan dunia ini selamat. Orang Barat dan Timur banyak masuk Islam, sementara umat Islam banyak yang “murtad” dengan caranya masing-masing.
60. Ananda takkan mungkin “puas” di dunia ini sampai kapanpun dan dimanapun. Ridlo Allah-lah yang penting!
61. Sistem amanat sangat boleh berubah. Itulah ke”luwes”an Islam, tapi nash-nash Islam tak boleh diganti atau diubah!
62. Akhirnya, baca Al-Qur’an seumur hidupmu!
KH. Hasan Abdullah Sahal